Wednesday, June 18, 2014 0 comments

Memperpanjang Paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jaksel


Hai pembaca! Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya memperpanjang paspor di Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Jakarta Selatan.

Kebetulan masa berlaku paspor saya sudah mau habis, dan saya mempunyai rencana untk jalan-jalan di akhir tahun, maka saya niatkan untuk mengurus perpanjangan paspor. Karena Kanim Kelas I Khusus Jaksel paling dekat dengan kantor saya, akhirnya saya putuskan mengurus perpanjangan paspor di sana. Berikut adalah langkah-langkah yang saya lakukan, mulai dari browsing untuk mengetahui apa saja yang perlu disiapkan sampai menerima paspor yang baru.

1. Persiapkan Dokumen Persyaratan.

Setelah sebelumnya saya membaca tips-tips Mengurus Passport di Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan, dan beberapa bulan yang lalu saya pernah menemani Ibu saya memperpanjang paspor di Kanim Jakarta Timur, maka saya terlebih dahulu menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai persyaratan memperpanjang paspor. Oh iya, dokumen-dokumen yang diperlukan untuk memperpanjang maupun membuat paspor baru hampir sama. Hanya saja untuk memperpanjang paspor, kita harus menyertakan paspor lama, selebihnya sama dengan persyaratan membuat paspor baru.

Berikut ini adalah dokumen-dokumen yang dibutuhkan:
- Ktp (cek masa berlaku, kalau sudah expired akan ditolak)
- Kartu keluarga (pastikan NIK pada KTP dan KK sama)
- Akta lahir/ijazah/surat nikah
- Paspor lama (hanya untuk perpanjang paspor)

Fotokopi semua dokumen tersebut di kertas A4 dan jangan digunting! Biarkan saja ukurannya apa adanya karena petugas imigrasi tidak akan melayani berkas yang ukurannya tidak sesuai. Siapkan juga dokumen asli untuk disertakan pada saat datang ke kantor imigrasi untuk memverifikasi keaslian berkas fotokopi yang akan diserahkan kepada petugas. Apabila kita tidak bisa membawa dokumen asli, kita bisa membawa copy dokumen yang sudah dilegalisir. Terkahir, apabila kita ingin melakukan registrasi secara online, siapkan scan dari dokumen-dokumen tersebut untuk kemudian diupload pada saat registrasi online.

2. Registrasi Online

Buka website portal Direktorat Jendra Imigrasi Republik Indonesia di alamat ini: http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp. Kemudian isi data kita pada menu Pra Permohonan Personal. Setelah mengisi data (termasuk alamat email yang valid), upload hasil scan dokumen-dokumen persyaratan yang telah disebutkan pada langkah pertama.

Sewaktu saya menemani Ibu saya mengurus perpanjangan paspor beberapa bulan yang lalu, setelah selesai mengisi data dan mengupload dokumen persyaratan, biasanya kita bisa langsung memilih tanggal kedatangan kita ke Kanim. Kedatangan kita ke Kanim untuk penyerahan dokumen, foto biometrik, input sidik jari, serta melakukan pembayaran paspor seara tunai pada kasir yang ada di Kanim.

Namun pada sistem yang baru, sebelum kita melanjutkan proses permohonan, kita akan menerima email konfirmasi yang berisi konfirmasi data permohonan, serta Bukti Pengantar ke Bank (terlampir) yang digunakan untuk melakukan pembayaran ke Bank BNI.

3. Email Konfirmasi dan Pembayaran

Isi email konfirmasi memuat:
  • Nama
  • Nomor Permohonan
  • Jenis Permohonan
  • Jenis Paspor
  • Rincian biaya:
    • Biaya Paspor : Rp. 200.000,00
    • Jasa TI Biometrik : RP. 55.000,00
    • Jumlah : Rp. 255.000,00
  • Lampiran pdf Bukti Pengantar ke Bank (dicetak dan dibawa pada saat melakukan pembayaran di bank)
  • Link untuk konfirmasi dan melanjutkan proses permohonan (setelah melakukan pembayaran)
Dalam lampiran Bukti Pengantar ke Bank terdapat beberapa poin catatan:
  1. Untuk melanjutkan proses permohonan :
    • Pemohon diharuskan melakukan pembayaran di Bank yang ditunjuk dengan membawa bukti pengantar ke Bank
    • Setelah melakukan pembayaran, pemohon diharuskan mengikuti prosedur/url konfirmasi yang sudah dikirim ke email
    • Pada halaman konfirmasi, pemohon harus memilih jadwal kedatangan ke kantor imigrasi yang dipilih dan memasukkan nomor jurnal Bank yang tertera pada Tanda Bukti Pembayaran Imigrasi yang dikeluarkan oleh Bank
  2. Jika dalam 5 hari kerja seluruh proses pada angka 1 tidak dilakukan, maka permohonan akan otomatis dihapus dari sistem dan pembayaran tidak dapat dikembalikan (no refund), silahkan mengajukan permohonan ulang dan melakukan pembayaran kembali.

Bukti Pengantar ke Bank

Setelah melakukan pembayaran, kita akan diberikan bukti pembayaran dari Bank BNI. Ada copy untuk kita, ada copy yang perlu dibawa pada saat kedatangan ke Kanim. Hal penting yang perlu diingat adalah pada bukti pembayaran tersebut terdapat nomor jurnal yang perlu diisikan ketika kita melakukan konfirmasi. Awalnya saya agak bingung yang mana nomor jurnal tersebut, karena takut salah isi. Namun saya bertanya kepada teller bank dan dia menunjukkan nomor jurnal yang perlu diisikan tersebut. Oh iya, jangan lupa biaya administrasi pembayaran di bank BNI sebesar 5rb.

Setelah saya selesai melakukan pembayaran, saya membuka email saya dan mengklik link konfirmasi yang disertakan sebelumnya. Saya isi nomor jurnal pembayaran, kemudian memilih tanggal kedatangan. Setelah itu terkirim lagi sebuah email yang berisikan lampiran Tanda Terima Permohonan dan Formulir Surat Perjalanan Republik Indonesia Untuk Warga Negara Indonesia. Formulirnya dilengkapi dengan menggunakan huruf cetak dan tinta hitam. Pada Tanda Terima Permohonan, didalamnya terdapat beberapa catatan:
  • Membawa dokumen persyaratan asli;
  • Pakaian sopan warna bebas selain putih;
  • Membawa paspor asli bagi mereka yang melakukan penggantian karena habis masa berlaku (penggantian);
  • Apabila pemohon tidak datang ke Kantor Imigrasi hingga 7 hari sejak jadwal tanggal kedatangan, maka permohonan ini akan dibatalkan secara otomatis oleh sistem SPRI;
  • Tanda Terima Permohonan ini wajib dibawa beserta bukti pembayaran dari bank (khusus Kantor Imigrasi yang melakukan pembayaran via bank) untuk mendapatkan nomor antrian;
Kebetulan pada saat tanggal kedatangan yang saya pilih saya berhalangan hadir. Namun ternyata saya masih bisa hadir sampai 7 hari sejak jadwal kedatangan. Akhirnya saya memutuskan untuk hadir keesokan harinya.

4. Kedatangan ke Kanim

Saya baru bisa datang ke Kanim Kelas I Khusus Jaksel satu hari setelah tanggal kedatangan. Kanim ini beralamat di Jl. Warung Buncit Raya No. 207 Jakarta Selatan. Kalau agak bingung mencari alamatnya, lokasinya tepat didepan halte busway Imigrasi Jakarta Selatan (K6.08) Koridor 6 Transjakarta Ragunan - Dukuh Atas. Pada dasarnya kedatangan ke Kanim ini bersifat wajib karena akan dilakukan penyerahan dokumen, foto biometrik, dan pengambilan sidik jari. Paspor sudah dapat diambil setelah 3 hari kerja setelah tanggal kedatangan.


Sebelum datang ke Kanim, pastikan kita sudah membawa dokumen-dokumen asli, fotokopi dokumen-dokumen (apabila belum memfotokopi tersedia fotokopi di koperasi di lantai 2), print-out tanda terima permohonan, formulir, dan bukti setor bank.

Saya sampai di Kanim pukul 6.30 pagi. Memang dari awal saya sudah niatkan datang pagi-pagi agar cepat selesai dan setelah itu bisa langsung ke kantor. Saya teringat pengalaman menemani Ibu saya memperpanjang paspornya beberapa bulan yang lalau di Kanim Jakarta Timur yang baru selesai sekitar jam 4 sore, dan ini membuat saya takut kalau akan seperti itu lagi.

Kanim ini memang baru buka mulai dari pukul 8.00 pagi, namun pada saat saya datang sudah ada sekitar belasan orang yang mengantri di depan pintu masuk di lantai dasar. Terdapat antrian ada dua baris (kanan-kiri). Selang berapa lama, ada petugas yang melakukan pengumuman menggunakan pengeras suara. Petugas tersebut cukup ramah, dan dia menjelasan proses pengurusan paspor serta mengingatkan dokumen-dokumen persyaratan yang harus disiapkan.

Petugas tersebut juga menjelasan bahwa pintu kantor imigrasi dibuka pukul 7.20 untuk lansia (pemegang ktp seumur hidup) dan balita (dibawah 2 tahun) untuk masuk terlebih dahulu. Kemudian pada pukul 7.30 pemohon lainnya dipersilahkan masuk setiap 20 orang untuk langsung naik ke lantai 2 dan mengambil nomor antrian. Sebelum mengambil nomor antrian akan ada petugas yang memeriksa kelengkapan dan memverifikasi keaslian dokumen-dokumen persyaratan. Setelah mendapat nomor antrian, kita dipersilahkan menunggu di ruang tunggu dan pelayanan dimulai pada pukul 8.

Total counter yang tersedia di Kanim tersebut cukup banyak, yakni 10 buah. Dan semua counter yang tersedia digunakan. Setelah menunggu selama kurang lebih 40 menit, akhirnya saya dipanggil menuju counter. Disana saya langsung menyerahkan dokumen (paspor asli ditinggal, namun akan dikembalikan bersamaan dengan pengambilan paspor baru), difoto, dan input sidik jari di meja yang sama. Menurut saya proses ini sudah sangat efisien karena pemohon hanya perlu mengantri satu kali. Kurang dari pukul 9 pagi, saya sudah diperbolehkan pulang. Sebelum pulang saya sempat bertanya kapan paspor saya selesai. Kemudian petugas imigrasi tersebut memberitahu bahwa paspor saya dapat diambil 3 hari kerja setelah foto. Pengambilan paspor dimulai pada pukul 1 siang di loket khusus pengambilan paspor dengan menunjukkan tanda terima permohonan yang sudah distempel.

5. Pengambilan Paspor

Satu minggu setelah foto saya kembali ke Kanim untuk mengambil paspor, kebetulan pada minggu itu terdapat 2 hari libur sehingga saya perlu menunggu 2 hari lagi. Saya langsung ke lantai 2, mengambil nomor antrian, dan selang sekitar 45 menit saya sudah dipanggil untuk mengambil paspor baru dan paspor lama saya. Sebelum mengambil paspor baru, saya diminta untuk memfotokopi paspor baru saya di koperasi dan menyerahkan fotokopianya ke petugas pengambilan paspor.

Selesai. Total waktu mengurus perpanjangan paspor kurang lebih sekitar 1 minggu dan hanya perlu dua kali datang ke Kanim. Oh iya, kalau tidak salah pengambilan paspor dapat diwakilkan dengan menyertakan surat kuasa kepada yang akan mengambil paspor.

Tips dari saya untuk mengurus paspor di Kanim Kelas I Khusus Jaksel ini adalah:
  • Usahakan datang pagi-pagi, agar dapat nomor antrian dan lebih cepat diproses.
  • Daftar online, karena antrian pagi pemohon online, pemohon lansia/anak-anak, dan pemohon umum dibedakan.
  • Pastikan semua dokumen-dokumen persyaratan yang diperlukan lengkap.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang akan memperpanjang paspor, maupun bagi yang baru akan membuat paspor. Good job untuk Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan yang telah memberikan pelayanan yang prima bagi warga negara yang membutuhkannya.
Sunday, January 26, 2014 0 comments

Trip to Visby and Stockholm, Sweden from Jakarta, Indonesia - Part I

Hi readers! This post is a really really late post since I did this trip to Sweden in the end of August 2013, hehehe. But as many people say, it's better late than never. And until I write this post, this trip is the most memorable trip I have ever done.

Previously I've written a post about how to apply for the visa (Schengen visa) to visit Sweden. The process is quite fast and relatively has easier requirements than visas to other countries. More can be read here: Part I and Part II.

So the story is I went to Visby, Sweden, with my mum and my sister in order to accompany my sister who will live there. Visby is a small town located on an island called Gotland. To reach Visby, we departed from Jakarta to Stockholm using Thai Airways with one transit in Bangkok and then connect flights from Stockholm to Visby using local airline, Gotlandsflyg.

To reach Stockholm from Jakarta there are many airline options available: Thai Airways, Turkish Airlines, Singapore Airlines, Emirates, Lufthansa, etc.. But the flight schedule from Stockholm to Visby at the time was only available at about 8 am, 10 am and 5 pm. We prefer a flight in the morning in order to get in Visby before lunch. Among those airlines we decided to use Thai Airways because of its relatively cheaper ticket prices and its arrival schedule on Arlanda airport is the earliest in the morning. However, the transit time in Bangkok is quite long, which is about 9 hours.

We departed from Jakarta to Bangkok using Airbus A330-300 flight TG434 for about 3 hours, from 12:30 pm to 3:30 pm. The next flight to Stockholm departs at 00:30 midnight, so we have very much time to spend at Suvarnabhumi airport, Bangkok.

Arriving at Suvarnabhumi airport, we followed the direction signs that are quite clear to the transit area. Suvarnabhumi airport security was pretty strict. After showing the boarding pass for the next flight that has been provided by airline personnel upon check-in in Jakarta, we walked to x-ray examinations and security checkpoint. All objects made ​​of metal shall be removed when passing the gate, including belts and even some coins in his pocket.

Just after passing the security checkpoint, we arrived at the departure hall that is very spacious. The airport is huge. From end to end, this departure hall is 1 km long. Filled with various shops like a shopping mall, we didn't feel tired to walk around and see the goods sold in these stores.

Once we are satisfied sightseeing and had our dinner, we waited in the waiting area near the departure gate. Previously I had asked for a username and password for free wifi to airport officials. Simply by showing my passport, I can use the internet facilities at the airport. Each person is limited to use the internet only up to 1 hour, but because I also requested access on behalf of my mother and sister, I can surf up to 3 hours, hehehe.

Time flies, it was already 11 pm and departure gate has been opened. I immediately woke my sister and my mum who had fallen asleep on the couch in the waiting room and then we got ready to get into the gate. The aircraft we were riding to Stockholm is a Boeing 777-300ER flight TG960. This aircraft is very comfortable and it looks like new. Our flight from Bangkok to Stockholm takes 10 hours. Due to the time difference between Bangkok and Stockholm for 5 hours, we were scheduled to arrive there at 5.30am.

After a long flight, we finally arrived at terminal 5 Arlanda airport, Stockholm. After taking care of immigration and baggage, we headed toward the terminal 3 to continue our next flight. The distance between those two terminals is not too far away and the availability of a fairly large trolley makes it very easy walk to terminal 3. The flight DC-803 we booked leave at 10 am so we still had enough time to sit in a cafe. We ordered breakfast with typical Swedish bread and a cup of black coffee which turned out to be a very popular drink for the people there.

Having finished breakfast, our plane arrived and we prepared for boarding. The aircraft we were riding is a turboprop, medium sized propeller aircraft. Later I found out that the plane is a Saab 340A. The sensation with turboprops is very different compared to larger size jets. The noise and vibration of the propeller engine felt quite noticeably into the cabin, but for some reason I really like the thrill of riding this plane. We flew to Visby airport for 45 minutes. When we got there, the first thing I realized is that the airport is quite small and quiet, but all facilities are complete and well preserved. After a short wait, we were picked up by my sister's husband there and he drove us to the house.

Me and my mother stayed at Visby for 10 days and then stopped in Stockholm for 4 days before returning to Jakarta. In the next part I'll tell you about places we visited, activities that we did, and the food we enjoyed while we were in Sweden. Stay tuned for my next post (it wont be as long as the last time I post something on this blog, hehe).
0 comments

Trip ke Visby dan Stockholm, Swedia dari Jakarta, Indonesia - Part I

Hai pembaca! Postingan ini adalah postingan yang sangat sangat terlambat sekali karena saya melakukan trip ke Swedia ini pada akhir bulan agustus tahun 2013, hehehe. Tetapi seperti yang banyak orang-orang bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan sampai saat tulisan ini ditulis, trip ini merupakan trip yang paling berkesan yang pernah saya lakukan.

Sebelumnya saya sudah pernah menulis postingan tentang bagaimana mengurus visa (schengen visa) untuk mengunjungi negara Swedia. Prosesnya cukup cepat dan persyaratannya relatif lebih mudah dibanding visa ke negara-negara lain. Selengkapnya bisa dibaca di sini (Part I) dan di sini (Part II).

Jadi ceritanya adalah saya berangkat ke Visby, Swedia, bersama Ibu dan kakak saya dalam rangka mengantar kakak saya yang selanjutnya akan menetap di sana. Visby merupakan sebuah kota kecil yang terletak di sebuah pulau bernama Gotland. Untuk mencapai Visby, kami berangkat dari Jakarta menuju Sockholm menggunakan maskapai Thai Airways dengan satu kali transit di Bangkok kemudian menyambung penerbangan dari Stockholm menuju Visby menggunakan maskapai lokal, Gotlandsflyg.

Untuk mencapai Stockholm dari Jakarta banyak pilihan airline yang tersedia: Thai Airways, Turkish Airlines, Singapore Airlines, Emirates, Lufthansa, dll. Namun jadwal penerbangan dari Stockholm menuju Visby pada saat itu hanya tersedia sekitar pukul 8 dan 10 pagi serta pukul 5 sore. Kami memang lebih memilih penerbangan yang lebih pagi agar dapat sampai di Visby sebelum jam makan siang. Diantara airlines yang tersedia kami memutuskan untuk menggunakan Thai Airways karena harga tiketnya yang relatif murah dan jadwal kedatangan di bandara Arlanda yang paling pagi. Walaupun demikian, waktu transit di Bangkok cukup lama, yaitu sekitar 9 jam.

Kami berangkat dari Jakarta menuju Bangkok dengan menggunakan pesawat Airbus A330-300 flight TG434 selama sekitar 3 jam, dari pukul 12.30 siang sampai 3.30 sore. Flight selanjutnya yang menuju Stockholm baru berangkat pukul 0:30 tengah malam, jadi kami mempunyai waktu yang sangat banyak untuk dihabiskan di bandara Suvarnabhumi, Bangkok.

Sesampainya di bandara Suvarnabhumi, kami mengikuti papan petunjuk yang cukup jelas menuju transit area. Keamanan bandara Suvarnabhumi terasa cukup ketat. Setelah menunjukkan boarding pass penerbangan berikut yang sudah diberikan oleh petugas airline pada saat check in di Jakarta, kami berjalan menuju gerbang pemeriksaan x-ray. Semua benda berbahan logam wajib dicopot ketika melalui gerbang tersebut, termasuk ikat pinggang dan bahkan uang recehan di saku.

Setelah melalui gerbang x-ray, kami tiba pada departure hall yang sangat luas. Bandara ini memang berukuran raksasa. Dari ujung ke ujung, panjang departure hall ini mencapai 1km. Dipenuhi berbagai macam toko layaknya sebuah shopping mall, kami tidak merasa bosan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat barang yang dijual di toko-toko tersebut.

Setelah puas jalan-jalan dan makan malam, kami menunggu di ruang tunggu dekat gate keberangkatan. Sebelumnya saya sudah meminta username dan password wifi gratis kepada petugas badara. Cukup dengan menunjukkan paspor, saya bisa menggunakan fasilitas internet di bandara tersebut. Setiap orang dibatasi hanya bisa menggunakan internet maksimal 1 jam, tetapi karena saya juga meminta akses atas nama ibu dan kakak saya, saya bisa internetan sampai 3 jam, hehehe.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan gate keberangkatan sudah dibuka. Saya segera membangunkan kakak dan ibu saya yang sudah terlelap di sofa ruang tunggu dan kemudian kami bersiap-siap untuk masuk ke dalam gate. Pesawat yang akan kami tumpangi ke Stockholm adalah sebuah Boeing 777-300ER flight TG960. Pesawat ini sangat nyaman dan sepertinya masih baru. Penerbangan dari Bangkok mejunu Stockholm memakan waktu 10 jam. Karena adanya perbedaan waktu antara Bangkok dan Stockholm sebesar 5 jam, kami dijawdalkan tiba di sana pukul 5.30 pagi.

Setelah penerbangan yang lama, akhirnya kami sampai juga di terminal 5 bandara Arlanda, Stockholm. Setelah mengurus urusan imigrasi dan mengambil bagasi, kami beranjak menuju terminal 3 untuk melanjutkkan penerbangan berikutnya. Jarak antar terminal yang tidak terlalu jauh dan tersedianya troli yang cukup besar sangat memudahkan kami berjalan kaki menuju terminal 3. Penerbangan flight DC-803 yang kami pesan berangkat pukul 10 pagi sehingga kami masih punya waktu yang cukup untuk duduk-duduk di sebuah kafe. Kami memesan menu sarapan roti-rotian khas Swedia dan secangkir kopi hitam yang ternyata merupakan minuman yang sangat populer bagi masyarakat di sana.

Setelah selesai sarapan, pesawat kami tiba dan kami bersiap untuk boarding. Pesawat yang akan kami tumpangi ini merupakan sebuah pesawat turboprop alias pesawat baling-baling yang berukuran tidak terlalu besar. Setelah saya mencari tahu, ternyata pesawat tersebut adalah sebuah Saab 340A. Sensasi menaiki pesawat turboprop sangatlah berbeda dengan pesawat jet yang pada umumnya berukuran lebih besar. Suara mesin baling-baling dan getaran mesin tersebut cukup terasa ke dalam kabin, namun entah mengapa saya sangat menyukai sensasi menaiki pesawat ini. Kami terbang menuju bandara Visby selama 45 menit. Sesampainya di sana hal pertama yang saya sadari adalah bandara tersebut cukup kecil dan sedang sepi, namun semua fasilitasnya lengkap dan terjaga dengan baik. Setelah menunggu sebentar, kami dijemput oleh suami kakak saya di sana dan diantarkan sampai rumah.

Saya dan ibu saya tinggal di Visby selama 10 hari dan kemudian mampir di Stockholm selama 4 hari sebelum kembali ke Jakarta. Pada tulisan part berikutnya saya akan bercerita tentang tempat-tempat yang saya kunjungi, kegiatan-kegiatan yang saya lakukan, dan makanan-makan yang saya nikmati selama berada di Visby dan Stockholm. Nantikan tulisan saya berikutnya dalam waktu dekat ini (tidak akan selama seperti sejak terakhir kali saya mempost sesuatu di blog ini, hehe).
Thursday, August 22, 2013 0 comments

Applying Visa for visiting Sweden at Swedish Embassy Jakarta Part II

So, I finally got my visa! And actually now I'm already in Sweden, sorry for  the very late update.

The process for applying visa is actually very quick. You mad appointment for an interview, prepare your documents, then go to the embassy for the interview. It usually takes around 2-3 days for your application to be processed, depending on how many other people who are also applied. Unfortunately there was a group of people that also applied. Looks like they are junior football team who will carry out a match in sweden. The officer said I should check my visa application in the next 7 days after the interview.

The interview was not as complicated as I imagined. The waiting room in the embassy office is not so big, it only fits for six people. So I waited in the building lobby first before I was allowed to wait upstairs. After waited for about an hour, finally I went to the interview room. The embassy officer just asked to verify what you write on your application and make sure that every documents were complete. When I was being interviewed, the officer noted that I still need to present my photo even though they took my photo at the interview. Then there was something wrong with my travel insurance policy. Even if I'm only going to Sweden, the insurance policy needs to mention the destination to "Schengen countries". So I had to contact the insurance company to ask for an endorsement letter to change the destination in my travel insurance policy. Both photo and the letter should be presented when I collect my visa.

After one week I contacted the embassy office to ask if my visa had been approved and when to collect it. Turned out the embassy officer said I can collect my visa today. So I went to the embassy office, got my visa and my passport!
Tuesday, August 6, 2013 0 comments

Pangandaran Beach, West Java

Last month, my gf told me that one of her friend was getting married and she asked me to go with her. The good part is her friend's wedding would be held near Pangandaran beach. The beach is located in the southern part of West Java and it's facing right to the Indian Ocean. I've been looking for a chance to go there since I was in college. I could never find a right time to go there even though it's not too far from Bandung, the city I went to college to. So, we decided to "stop by".

The cost for a trip there was only IDR 570.000 per person. The price includes transportation from Jakarta back and forth, hostelry, foods, and one ticket for body rafting in the Green Canyon located near Pangandaran Beach. There were 17 people who join the trip and we went there using a mini bus. We set off from Jakarta around 9 pm, hoping we would arrive just before the sunrise in the next morning. Sadly, we picked the wrong time. Tuned out that it was the last weekend of the public school holiday. The traffic was hideous!

At around 6 am in the next morning we were still around Tasikmalaya and Ciamis. I don't remember where we exactly were but we decided to stop for breakfast at a restaurant in the side of the road called Mergosari. We were served with Ayam Goreng, Pepes Ayam, Bowls of Rice, Sambal and Lalapan. I don't know if it's because I was starving, but the food tasted really delicious! I ate the Pepes Ayam and it was so good. It's chicken wrapped in a banana leaf with some ingredients and then steamed. The pepes was still steamy, and smells really good! Later I found that Mergosari has many restaurants alongside the south route in West and Central Java.

Sambal
After few more hours, we finally made it to Pangandaran. There were no sunrise as promised because the sun was already right above our heads. Yes, we arrived at 12 am in the next day. We were supposed to have time to play at the beach all morning. But since it was already noon, we had a wedding to attend. So we went to our hostelry near the beach, getting ready, and then set off to the wedding. It was in the bride's house, a modest wedding, not much for decoration, yet very beautiful!

After the wedding, we went straight to our hostelry located near Batu Karas, another beautiful beach in that area. It's supposed to be around one hour drive from Pangandaran, but the road was very damaged and costed us 30 minutes more than usual time. When we arrived, it was already dark and a little bit raining. We decided not to go to the beach as the waves was huge. So we went to a seafood restaurant near the beach and have some seafood for dinner.

In the next morning, we were supposed to catch the sunrise, the thing that we didn't get at the first day and then go to a place called Green Canyon. The Green Canyon, note that this place has nothing to do with the Grand Canyon in US, is a very beautiful place. As expressed in the name, it's a canyon and it's green. The color of green came from the tropical plantations covering the canyon. In the bottom, it has a river that the tourist's main attraction is body rafting down the river.

Sunrise at Batu Karas Beach
Another Sunrise Photo
Friends
Friends
Friends
Untitled
Untitled
Again, we picked the wrong time to go there as the rain was pouring really heavy all night. In the morning, the cloud was blocking the sun and the water debit was too dangerous  in Green Canyon. Luckily our travel guide gave us an alternate location for body rafting. It's not too far, only the river is smaller and the route is shorter. The place called Sungai Citumang, or Green Valley. It's not as famous as Green Canyon, and  I thought because of that the place is still in pristine condition. Our starting point was in a cave's mouth, the river's water came from an underground river in that cave. There's also a tree root in the cave's mouth that we can use to climb as high as 5 meters and we can jump into the river! And then we went down the river with many places to play or jump into the water. After around one hour we finally arrive at a dam which marks the end of our journey.

Entrance
Starting Point: Cave
Another Cave Photo
Jumping Into The Water
One Line Formation
River
Finish
Entrance Camp
After one hell of a ride, we went to the base camp and clean our self and getting ready for lunch. We already packed our bags from the hostelry so we can go straight back to Jakarta. After lunch, we hopped into the mini bus and prepare for our journey home.

After around 4 hours, we were still at Ciamis and stopped to have some dinner. There were so many street food vendors around the city hall. After dinner, we continued our trip. It was around 3 am when we were entering Cileunyi toll road. Turned out there was another traffic from around km 90 to around km 50 because of roadwork. We arrived at Bekasi at 6.30 am on Monday, which is the time people going to work. And by the time we arrived at Senayan, Jakarta, it was already 10 am.

Damaged roads between Pangandaran and Banjar
In total, we've spent 15 hours drive getting there, and 20 hours drive getting back. Usually it only takes 8 hours drive from Jakarta to Pangandaran. But I think we were just out of luck, and I absolutely don't mind of going there again some other time. I still haven't got to see the beauty of the Green Canyon though.
Tuesday, June 18, 2013 0 comments

Applying Visa for visiting Sweden at Swedish Embassy Jakarta

So the story began when my sister just got her permanent residence permit in Sweden and she's gonna move there next month. Then my mum decided to accompany her moving. She also wants to see my sister's new place and have a vacation trip there. But because my sister is going to stay and nobody will accompany my mum fly back home, I eventually will also join the trip to Sweden, hehe.

First thing came across my mind is the airline ticket. I've tried looking to some website to search for tickets, but the cheapest fare I found is around USD 1350 back and forth. Then, my sisten who happened to be an "expert" in searching for cheap tickets, gave me information that she found a ticket that cost only USD 1080.

Currently I haven't book the ticket yet. What the world could be if I already bought the ticket and turns out I don't get the visa? The procedure to apply for the visa is not really complicated, they already have an online application system for visa at http://www.migrationsverket.se/. The officer at the embassy suggests to apply using that system because basically the offices uses the same application if we apply manually at the embassy. But after trying the system, there are some confusing questionnaires  For example there's an input field which is required to be filled with a sponsor from employer. Where should my pensioner mom gets it? So it is decided that we will just apply manually at the embassy.

Informations to apply swedish visa at Jakarta embassy can be seen here http://www.swedenabroad.com/en-GB/Embassies/Jakarta/Visit-Sweden/Visa-for-visiting-Sweden/. I will not copy-paste all the article from that website, first because the information there is always updated and second I'm too lazy to write. The point is to apply visa at the embassy we should come for interview and photo take, with previously made an appointment and bring some prerequisite documents. We can contact the embassy though a phone line +62 21 2553 5900. The embassy is open for visa every Monday-Friday at 8.30-11.30. The process is quite fast, only 3-5 days, but in some other cases could take longer than that. As a precaution we should apply for visa well in advance before the date of departure. Visa is valid for maximum of 90 days, and our passport should not yet expired for at least 6 months.

As of 9 January 2012 the fee for a Visa is IDR 750 000, which is the rough equivalent of EUR 60. For children between 6-12 years old, the fee is IDR 435 000 which is the rough equivalent of EUR 35. Children under the age of six years will be exempted from paying a fee. The payment of the visa fee is made through the Embassy's account in the PT Bank ANZ Indonesia:
Swift ID : ANZBIDJX
Account No. : 4033 6001 00012
Beneficiary : Embassy of Sweden

The prerequisite documents depends on the purpose of your visit to Sweden:

So now I'm gonna prepare the documents and make an appointment for an interview to the embassy. The next post will be updates about the interview at the embassy.

Have a nice day!
Monday, June 17, 2013 0 comments

Upcoming Posts

Because I just started writing to this blog, I would post some of my journey that I recently did and also some that I plan to do (marked with *). So here's the list:
  • Pari Island Paradise
  • Willy's Wedding at Medan
  • Jogjakarta Part I: New Year 2013
  • Jogjakarta Part II: Ardan's Wedding
  • Weekend at Singapore
  • Pangandaran Beach, West Java
  • Stockholm - Gotland *
  • Surabaya - Malang - Bromo *
  • Tanjung Lesung *
will also  post reviews of foods, because I love them!
So, I will keep this blog updated.

Live Long and Travel!!!... and Eat.